Menu Home

Pelatihan Politik untuk Caleg Perempuan oleh UNPD dan KPPPA

Mendekati penghujung tahun ini, tanggal 20-22 Desember 2013, meninggalkan kesan yang mendalam untuk saya-

Kanti W. Janis. Bersama puluhan caleg perempuan dari daerah Jakarta dan Banten, saya diundang untuk mengikuti pelatihan kampanye politik yang diselenggarakan oleh UNDP, di bawah proyek SWARGA, dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPPA). Saya adalah salah satu peserta termuda. Para caleg perempuan yang diundang ke pelatihan, adalah mereka yang dianggap potensial dan dapat memperjuangkan nasib-nasib perempuan.

Selama tiga hari dua malam, kami dikarantina di hotel Aryaduta, Karawaci, Tangerang. Selain pelatihan praktis, seperti cara menghitung ambang batas atas-bawah, dan tips-tips kampanye sehat, kami juga diajak saling bertukar pikiran, dan bermain bersama. Acara pelatihan ini mirip dengan retreat.

Sepanjang acara berlangsung suasananya sangat cair dan hangat, walau kami dari berbagai partai, tidak ada aura persaingan, keakraban terjalin dengan sendirinya. Meskipun saya salah satu peserta termuda, ibu-ibu lain memperlakukan saya dengan baik dan setara. Para fasilitator juga berusaha keras agar materi yang disampaikan tidak membosankan, terutama oleh Ibu Wahidah Suaib dari KPPPA. Selain Ibu Wahidah, ada juga Bapak Antonius W. Sumarlin, dan Ibu Dahlia dari KPU, juga Mas Zahid dari JPPR.

Pelatihan ini juga semakin membuka wawasan kami, mengapa nasib kaum perempuan masih harus diperjuangan secara khusus. Kami diajak mengenali dan mendalami isu-isu yang dihadapi perempuan saat ini. Meski emansipasi perempuan sudah diteriakan dan diperjuangan, ternyata masalah yang dihadapi kaum perempuan masih tidak jauh dari jaman R.A. Kartini dulu.

Masih begitu banyak perlakuan buruk yang diterima perempuan karena idetintas seksnya, dan itu menjadi sebab mengapa masih ada kementerian yang khusus untuk melindungi perempuan. Bagi saya selama masih ada Kementerian Pemberdayaan Perempuan, itu adalah simbol paling nyata bahwa diskriminasi terhadap perempuan sangat tinggi.

Setiap acara pelatihan seperti ini, bagi saya yang paling menyenangkan adalah bertemu dengan orang-orang yang inspiratif. Dan di acara tersebut banyak sekali perempuan-perempuan hebat yang menginspirasi saya. Di antaranya adalah Ibu Maria S.A. Wardhanie, dari partai Nasdem, caleg DPR-RI, dapil Jakarta I. Beliau adalah ketua PEPULIH, sebuah organisasi yang mengajak masyarakat untuk peduli lingkungan. Ibu Maria ahli dalam hal kelestarian lingkungan dan perkebunan, ia turun sendiri dalam melakukan pelatihan-pelatihan. Saya juga seorang pencinta lingkungan dan alam, kesadaran untuk hidup ‘hijau’ sudah muncul secara natural, semenjak di sekolah dasar. Karena itu pertemuan dengan Ibu Maria sangat saya syukuri, beliau sangat terbuka untuk membagi ilmu dan pengalamannya.

Sosok kedua yang juga menginspirasi adalah Ibu Dieny Tjokro, juga dari partai Nasdem, caleg DPR-RI, dapil Jakarta II. Sebelum mengetahui latar belakangnya, Ibu Dieny sudah membuat seisi kelas terpukau akan kepandaian dan kecantikannya. Setelah mengenal lebih jauh, ternyata Ibu Dieny adalah dosen psikologi UI, dan pernah memegang jabatan wakil dekan Fakultas Psikologi UI terlama. Semakin kagum lagi ketika saya tahu, bahwa beliau adalah cucu pahlawan nasional M.H. Thamrin, yang saya kagumi. Kebetulan dua tahun lalu saya menerbitkan kumcer Amplop Merah Muda Untuk Pak Pos, yang di dalam sedikit menyebut sejarah M.H. Thamrin, sayang saat riset, sulit sekali menemukan fakta sejarah tentang M.H. Thamrin, sehingga banyak pertanyaan yang belum terjawab. Karena itu rasanya luar bisa ketika bertemu dengan Ibu Dieny, sehingga saya bisa mendapat jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu.

Saya merasa pertemuan dengan mereka sudah diatur oleh Tuhan. Entah bagaimana, tetapi Tuhan selalu menjawab pertanyaan-pertanyaan saya, yang kecil maupun besar dengan cara yang tidak pernah saya bayangkan.

Selain mereka masih banyak lagi sosok caleg perempuan hebat yang jika nama dan prestasinya disebutkan satu-persatu di sini tidak akan cukupl.

Detik-detik berakhirnya pelatihan kami merasa sedih untuk berpisah, dan berjanji untuk tetap berkomunikasi dan saling mendukung.

Pulang ke rumah, tujuan saya mencalonkan diri semakin jelas dan terlihat, pikiran dan hati terisi penuh.

 

Penulis:

Kanti W. Janis, S.H., LL.M

 

 

 

Categories: Blog

Tagged as:

Kanti Janis