Menu Home

Profil

Profil Kanti W. Janis

 

Kanti  Wisnuwardhani Janis (Kanti W. Janis), adalah penulis buku fiksi “Saraswati”, “Frans dan Sang Balerina”, “Amplop Merah Muda Untuk Pak Pos”, dan e-book berbahasa Inggris “ The Other Door”. Selain menulis buku ia juga bekerja sebagai konsultan hukum dan advokat di kantor hukum Robean-Janis and Associates, serta menjalankan penerbitan dan konsultasi penerbitan buku Optimist + (dibaca optimist plus atau optimist positive). Dia juga aktif di kegiatan seni, sebagai musisi, penyanyi, dan pelukis anggota Ikatan Wanita Pelukis Indonesia (IWPI).

Kanti menyelesaikan pendidikan SD, SMP, di St. Theresia, Jakarta,dan menamatkan SMA-nya di SMUN 26, Jakarta. Tahun 2003, Kanti melanjutkan  kuliah di fakultas hukum Unika Atma Jaya, Jakarta,  jurusan hukum internasional. Ia lulus kuliah dalam tempo 3,5 tahun dengan predikat ‘sangat memuaskan’. Beberapa bulan setelah lulus kuliah tahun 2007, ia melanjutkan kuliah master hukum jurusan International Law and Law of International Organizations di Rijksuniversiteit Groningen (RuG), Groningen, Belanda, lulus 2008 dengan gelar LL.M.

Masalah sosial dan lingkungan hidup sudah menjadi perhatiannya sedari usia dini. Kepedulian sosialnya ini adalah awal dari keinginannya menjadi policy maker di Indonesia, sehingga ia memutuskan memasuki dunia politik.

Keluarga

 

Kanti Wisnuwardhani Janis lahir di Jakarta, 17 Januari 1985 dari ayah bernama Roy B.B. Janis dan ibu bernama R.A. Jeni Suryanti.

Ayah Kanti adalah seorang politisi tokoh reformasi 1998. Pada tahun 1996 saat terjadi “Peristiwa Kongres Medan” yang membuat PDI pecah menjadi “Kubu Megawati” dan “Kubu Soerjadi” yang didukung oleh penguasa orba; terpilih menjadi Ketua DPD PDI Perjuangan DKI Jakarta 1996-2000 yang berhasil mengantar PDI Perjuangan memperoleh kemenangan di DKI Jakarta pada Pemilu 1999 dengan meraih 7 kursi DPR-RI dan 30 kursi DPRD Tingkat I. Tidak lama setelah terpilih menjadi Ketua DPD PDI Perjuangan pada tanggal 12 Juli 1996, terjadi penyerbuan kantor DPP PDI Perjuangan yang terkenal dengan “Peristiwa Sabtu Kelabu 27 Juli”.

Karier politik di Lembaga Perwakilan Rakyat dimulai pada saat terpilih menjadi anggota MPR-RI FPDI 1992-1997, yang pada saat menjelang Sidang Umum MPR 1993, bersama-sama dengan para anggota DPR/MPR FPDI lainnya, “berkumpul” dalam :Kelompok 19″, dengan tujuan “menolak pencalonan kembali Soeharto” untuk menjadi presiden dalam Sidang Umum tahun 1993. Para anggota Kelompok 19 antara lain Megawati SP, Sophan Sophiaan, Tarto Sudiro, Laksamana Sukardi, Taufik Kiemas, Guruh SP, dan kawan-kawan.

Pada Pemilu 1999, terpilih menjadi Anggota DPR/MPR RI periode 1999-2004, tahun 2001-2003, menjadi Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPR-RI, pada Pemilu 2004 terpilih kembali menjadi Anggota DPR/MPR RI periode 2004-2009. Pada saat menjadi Ketua Fraksi PDI Perjuangan, pernah menolak secara resmi kenaikan tarif BBM, tarif listrik, tarif telepon secara bersamaan sehingga harus berhadapan dengan Kabinet pimpinan Presiden Megawati.

Karena terjadi perbedaan tajam dalam Kongres PDI Perjuangan di Bali April 2005, yang diawali dari lahirnya Gerakan Pembaruan; maka pada bulan Oktober 2005 mengundurkan diri sebagai Anggota DPR/MPR RI bersama dengan beberapa rekan lainnya.

Pada tanggal 1 Desember 2005, bersama-sama dengan rekan-rekan seperjuangan yang tergabung dalam Gerakan Pembaruan se-Indonesia, mendirikan dan mendapat tugas sebagai Ketua Pelaksana Harian Pimpinan Kolektif Nasional Partai Demokrasi Pembaruan.

Sementara sang ibu setelah berkarir panjang di Astra, menjabat sebagai Direktur P.T. Bhawata Nusa Surya Perdana dan Ketua Yayasan  Pusat Pendidikan Musik Vokal Gita Svara. R.A. Jeni Suryanti adalah putri Mayjen. Purn. K.R.M.H. Jonosewojo Handayaningrat yang merupakan pemimpin Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Keresidenan Surabaya pada peristiwa 10 November 1945 saat usianya baru 24 tahun. Jonosewojo pernah memegang pimpinan tertinggi Pelti (tenis) selama kurang lebih 20 tahun, kemudian sebagai ketua PABBSI (angkat besi), Perbasi (basket), dan pernah mengetuai PTMSI (tenis meja).

Jika ditarik jauh ke belakang, Kanti merupakan keturunan dari silsilah keluarga pejuang kemerdekaan RI. Ayah dari Jonosewojo ialah K.P.A. Suyono Handaningrat—seorang priyayi yang aktif dalam pergerakan Boedi Oetomo. Suyono Handaningrat bersama-sama salah satu pendiri Boedi Oetomo—dr. Sutomo—mendirikan partai politik bernama Parindra dan mendapat penghargaan sebagai Perintis Kemerdekaan.

Suyono Handaningrat juga adalah anak lelaki satu-satunya pangeran Surakarta Mangkunegara VI. Pada masa kolonialisme Belanda, Mangkunegara VI terkenal sangat reformis dan anti-Belanda sejak usianya 16 tahun.

Masa Kecil dan Remaja

 

Sejak kecil kepedulian Kanti terhadap lingkungan sudah tumbuh. Saat duduk di bangku kelas 1, ia membentuk kelompok Alam Hijau dan membuat buku panduan cara merawat lingkungan. “Saya sendiri tidak ingat darimana munculnya kepedulian itu. Tapi saya selalu ‘kesakitan’ kalau melihat berita tentang hutan terbakar atau perburuan hewan liar,” terangnya. Kepeduliannya ini juga tertuang di komik-komik masa kecil yang dibuatnya tentang penyelamatan hutan liar.

Kanti menghabiskan masa sekolah dasar di SD Negeri dekat rumah. Di sekolah tersebut, ia termasuk murid yang paling berkecukupan. Dan murid-murid di sekolah itu sangat homogen, karena mayoritas adalah anak-anak dari orangtua berprofesi sama. Semua berubah saat Jeni memindahkan Kanti ke sekolah St. Theresia demi pendidikan yang lebih baik.

Kanti menjadi minoritas di antara murid-murid St. Theresia yang kebanyakan keturunan etnis Tionghoa. “Saya sering dikatain miskin dan paling hitam. Namanya juga masih anak-anak,” cerita Kanti ringan. Karena penampilannya yang berbeda, Kanti sering diejek teman-teman, tetapi ia tidak pernah diam begitu saja, justru sebaliknya mereka yang mengejek malah menjadi jera. Sedari kecil orangtuanya sudah mengajarkan Kanti untuk bisa membela diri.

Di Theresia, Kanti merasakan bagaimana menjadi kaum minoritas. Padahal di luar gerbang sekolah, keturunan etnis Tionghoa itulah yang jadi kaum minoritas. Tetapi Kanti menekankan bahwa ia tidak ada masalah dengan etnis Tionghoa, bahkan bersahabat dekat dengan mereka,”tidak ada yang salah dengan etnis tertentu,saya pun terlahir dari campuran berbagai etnis, termasuk keturunan Tionghoa, yang harus diperbaiki adalah pola pikir,”tegasnya. Hal ini menumbuhkan kepekaan di benak Kanti, sehingga ia memutuskan untuk menjadi Sarjana Hukum.

“Karena saya ingin membela yang lemah,” ujar Kanti. “Saat itu saya belum mengerti tentang sistem pemerintahan. Tapi intinya saya tahu, seorang sarjana hukum mengerti hukum, bisa menciptakan hukum, dan menegakkannya.” Pemikiran itu yang mengantarkannya terjun ke politik.

Sejak remaja, Kanti juga dikenal pribadi yang vokal. Saat SMA, Kanti menolak mengikuti OSPEK. Sekolah berkilah OSPEK adalah masa pengenalan, tetapi pada kenyataannya OSPEK sering dijadikan ajang penindasan senior kepada junior. Menurut Kanti, tradisi penggencetan tak ubahnya membenarkan budaya feodalisme, “ Apakah karena seseorang lebih dulu masuk sekolah dari saya lantas mereka boleh menginjak-injak saya?” Sekolah pun mewajibkan Kanti mengulang OSPEK di tahun berikutnya, dan tentu ditolak, “saya bersedia mengulang OSPEK jika guru yang menyuruh sanggup menyebutkan 5 manfaat saya mengulang OSPEK, karena guru itu gagal menyebutkan, saya masuk kembali ke kelas.” Saat itu jika tidak mengulang OSPEK, Kanti diancam tidak bisa menerima rapot di akhir kelulusan, namun ia tetap pada pendiriannya. Karena sifat vokalnya tak jarang ia terlibat perdebatan dengan para guru.

“Mereka selalu menuduh saya berani bicara karena Ayah saya anggota DPR. Saya sangat tersinggung. Apapun pekerjaan orangtua saya, tidak ada hubungannya dengan cara saya bersikap,” terangnya. “Saya sering dicap nakal karena keberanian saya memprotes. Padahal saya jauh dari nakal. Saya sangat anti rokok dan narkoba. Saya juga tidak pernah memplonco adik kelas, tidak ada untungnya.”

Saat  kuliah, walau sudah menerima berbagai tekanan dan perlakuan kasar dari para senior Kanti terus menolak OSPEK. Menurutnya, sangat memalukan jika sebuah institusi pendidikan hukum para siswanya justru tidak menghargai hukum yang paling dasar, yakni menghormati HAM.

Kanti juga tidak mau menyogok guru dan dosen demi nilai bagus, baginya lebih baik nilai jelek daripada harus menyogok. Di kampus seorang dosen pernah meminta ia membayar agar diluluskan, tetapi Kanti menolak. Setelah berdebat berhari-hari, akhirnya Kanti diluluskan dengan nilai C, tak lama kemudian dosen tersebut dikeluarkan oleh universitas.

Pendidikan Di Belanda

 

Kanti menempuh kuliah dalam waktu 3,5 tahun di Universitas Atma Jaya dan lulus dengan predikat ‘sangat memuaskan’. Ia mengaku suka belajar, tetapi belum pernah sekali pun merasakan asyiknya belajar di sekolah.

Berdasarkan cerita teman-temannya, para guru di sekolah luar negeri lebih pengertian terhadap muridnya. Murid juga dilatih bisa mengungkapkan pendapatnya meski berbeda dengan pendapat guru. Kanti pun berangan-angan bisa sekolah di luar negeri.

Awalnya Kanti menjatuhkan pilihan pada Melbourne, Australia. Nasib berkata lain. Kanti memutuskan sekolah di Belanda, setelah tak sengaja melihat brosur pendidikan di Eropa. Padahal ia sudah diterima di University of Melbourne.

Kanti memulai kuliah di Groningen University, kota Groningen dengan program studi International Law and Law of International Organization pada 29 Agustus 2007. Ia adalah satu-satunya mahasiswi Asia di jurusan tersebut, semenjak dua mahasiswi dari China mengundurkan diri.

Ternyata sistem perkuliahan di Belanda tak banyak berbeda dengan di Indonesia. Mahasiswa-mahasiswi hanya mendengarkan dosen, mencatat di kelas, dan menghafal materi untuk ujian, jika berpendapat lain dari dosen akan diberi nilai jelek.

“Teman saya dari Kanada dan Selandia Baru marah besar karena kaget sistem pendidikan di Belanda masih sangat tradisional. Semestinya saya tidak usah heran, karena Indonesia kan hanya kebagian sisa penjajahan Belanda,” keluh Kanti.

Sifat vokal dan kritisnya terus berlanjut selama di Belanda. Ia sering memprotes ajaran dosen, terutama seputar sejarah Indonesia. Kemudian dalam Thesisnya yang berjudul “UN Security Council and The Violation of Human Rights” Kanti mengkritik Dewan Keamanan PBB dalam pemberian sanksi ekonomi terhadap negara-negara miskin. Sanksi ekonomi yang diberikan PBB untuk menjatuhkan pemimpin suatu negara ternyata sangat tidak efektif dan banyak memakan nyawa orang-orang tidak bersalah, seperti menewaskan 500.000 anak-anak Irak. Dosen pembimbingnya mengatakan Kanti terlalu frontal. Dosen tersebut lantas tak mau beri nilai sampai isi thesis itu diubah.

“Alasan dia bagaimana kalau saya melamar kerja ke PBB dan mereka tahu bahwa thesis saya mendapat persetujuan dari dosen itu? Mau dikemanakan nama dia. Saya kecewa sekali, karena pertimbangan dia bukan atas dasar kemajuan anak didiknya melainkan kredibilitas pribadi dia,” cerita Kanti.

Bulan Oktober 2008 Kanti menyelesaikan kuliah masternya, dengan gelar LL.M

Dari pengalaman bersekolah di negeri kincir angin tersebut Kanti memetik pelajaran bahwa orang-orang Indonesia tidak kalah pintar dengan penduduk negara manapun.Sebagai salah satu bukti dua orang kawan seangkatannya menjadi lulusan terbaik di kampus itu. “Saya yakin jika masalah esensial, seperti pendidikan dan korupsi telah dituntaskan, Indonesia akan jadi salah satu negara paling maju di dunia. Dan saya percaya itu tidak akan lama lagi.”

Di Groningen Kanti menjadi anggota dan pengurus Persatuan Pelajar Indonesia Groningen (PPI-G). Kanti juga menjadi ketua panitia malam kebudayaan “Indonesian Night” dan panitia acara olahraga tahunan Groens Cup saat masa kepengurusannya. Tahun 2008, Kanti menjadi manajer pemenangan Mackenzie Hadi sebagai ketua PPI-G berikutnya.

Karir:

 

Bidang seni

Kanti secara naluriah sudah menyalurkan bakat seninya sejak kecil. Ketika SD ia senang menggambar komik. Dan waktu SMP ia mulai menulis cerpen. Jeni juga mendaftarkan Kanti ke berbagai macam les mulai dari piano, menggambar, tari Bali dan Sunda, tari Balet, melukis, vokal, hingga les biola di Indonesian Youth Orchestra. Hasil dari berbagai les seni tersebut adalah menjadikannya penampil semi-profesional-ia sering mentas sebagai violinist dan penyanyi. Semenjak SD Ia sering dikirim mewakili sekolah ke lomba menggambar atau paduan suara, dan memenangkan beberapa di antaranya. Kanti juga adalah pelukis anggota Ikatan Wanita Pelukis Indonesia (IWPI).

Hampir setahun setelah tamat SMA pada tahun 2004, Kanti membuka kafe bernama Kafe Boelat dengan idealisme menyediakan wadah berekspresi seni bagi anak muda. Kanti mengakui kafe itu masih banyak kekurangan, tetapi di situ ia banyak belajar, karena mengerjakan semuanya, dari pemilihan bohlam, pemasaran, meracik kopi sampai melayani pelanggan. Kafe itu secara rutin menyelenggarakan lomba band, dan pernah bekerjasama dengan restoran waralaba McDonald’s. Menjelang keberangkatannya ke Belanda, Kanti memutuskan untuk menutupnya.

Di antara banyak kecintaannya terhadap seni, ternyata dunia sastra menjadi cinta utamanya. Pada Januari 2007, Kanti memulai debut karir sebagai penulis dengan meluncurkan novel perdananya berjudul ‘Saraswati’, penerbit AKOER. Novel tersebut bercerita tentang percintaan beda agama, suku, dan usia antara Saraswati (gadis Bali) dan Disam (pria Belanda setengah Jawa). Buku tersebut membawanya sebagai nominator Penulis Muda Berbakat 2007 Khatulistiwa Award.

Pada tahun 2010, Kanti menelurkan novel kedua berjudul ‘Frans dan Sang Balerina’, penerbit Gramedia Pustaka Utama. Novel bergenre misteri romantis itu berkisah tentang Liana seorang murid balet yang jatuh cinta kepada penari balet berbakat bernama Frans, yang belakangan diketahui sudah meninggal 10 tahun yang lalu. Di tahun yang sama, Kanti mendirikan penerbitan dengan nama Optimist + (Optimist Plus), selain menerbitkan buku karangan sendiri, Kanti juga memberikan konsultasi bagi mereka yang mau menerbitkan buku. Masih tahun 2010 kumpulan cerpen Kanti diluncurkan dalam buku berjudul ‘Amplop Merah Muda Untuk Pak Pos’. Tahun 2012, Kanti meluncurkan e-book novelette berbahasa Inggris ‘The Other Door’, mengisahkan kehidupan seorang gadis bernama Ayu yang tak sengaja membakar habis pemukiman rumahnya sehingga ia terpaksa diungsikan ke Vietnam demi menghindari amukan massa.

Untuk mengasah kemampuan penulisan kreatifnya, Kanti mengikuti Creative Writing Summer Course, yang diselenggarakan Oxford University di Oxford, Inggris, pada tahun 2011.

Karya-karyanya telah menjadi koleksi berbagai perpustakaan nasional dan internasional, seperti National Library of Australia dan Yale University, America. Saat ini Kanti tengah menyelesaikan beberapa buku, di antaranya novel tentang seorang anak lelaki yang bercita-cita menjadi petani.

2012, Kanti sempat bekerja di pusat seni dan budaya “Salihara”, pimpinan Goenawan Mohamad, sebagai Program Eksekutif Sahabat Salihara.

 

 

Bidang Sosial dan Politik

 

Memasuki SMA Kanti semakin giat melakukan kegiatan sosial dengan rutin mengunjungi panti-panti asuhan, di antaranya Abhimata dan Yayasan Sayap Ibu. Semua kegiatan itu dilakukan atas inisiatif pribadi bersama teman-teman. Ia melakukan itu semua didasari rasa empati terhadap sesama manusia, “saya tidak sanggup membayangkan hidup tanpa orangtua, karena itu saya ingin meringankan sedikit beban mereka yang kurang beruntung,” ungkapnya.

Gempa Bantul 2006, Kanti menggalang dana dari teman-teman terdekat, kemudian mengantarkan sendiri ke lokasi gempa bersama rombongan UI. Kanti juga pernah terlibat di yayasan The Cure for Tomorrow (TCFT) sebagai penasihat bersama aktivis sosial Angie Setia, pada tahun yang sama.

Untuk mewadahi kegiatan sosialnya, tahun 2008, Kanti bersama kawan-kawan mendirikan yayasan sosial yang bergerak di bidang pendidikan untuk anak-anak tidak mampu bernama Civismo Foundation. Civismo Foundation bermarkas di Jalan Irian, Jakarta, dan memiliki tujuh orang pengurus (www.civismofoundation.org). Selain sebagai humas, Kanti juga memberikan kelas menulis untuk anak-anak asuhan Civismo. Civismo saat ini membantu pendidikan di panti asuhan Muhammadiyah Rukem, Rawamangun, Sekolah Bina Tunas Bangsa, Tangerang, dan TK Bina Insan, Pulo Gadung.

Salah satu kegiatan rutin yang dilakukan bersama Civismo Foundation ialah “Career Day” di Panti Asuhan Muhammadiyah Rukem, Rawamangun, yaitu mengajak berbagai professional untuk memperkenalkan pekerjaan mereka kepada anak asuh.

“Setelah Career Day anak-anak panti asuhan itu cita-citanya jadi bervariasi. Bahkan jadi ada yang ingin buka restoran waralaba seperti KFC, tetapi dengan masakan Indonesia,” ungkap Kanti.

“Saya memutuskan untuk berpolitik agar aksi sosial yang sudah saya lakukan sejauh ini dampaknya bisa semakin besar. Sekaya-kayanya saya pribadi tetap hanya segelintir orang yang bisa saya bantu. Kalau jadi pemerintah bisa berbuat lebih banyak. Contohnya Jokowi dan Ahok yang bisa bangun perumahan rakyat,” ungkap Kanti.

Keinginan menjadi policy maker sudah ada di dalam dirinya semenjak kecil. Perlahan-lahan Kanti mengarahkan dirinya untuk menjadi seorang politisi, dengan mengikuti berbagai organisasi walau tidak semata-mata organisasi politik. Organisasi yang pernah diikuti antara lain; IWPI, Studio 51, PPI-G, Civismo Foundation,Merah Putih Jaya, TCFT, dll. “Tujuan mengikuti berbagai organisasi dan kepanitiaan adalah melatih diri untuk berkomunikasi, bekerjasama dengan orang lain, serta menggolkan satu tujuan bersama-sama,” ujarnya. Tahun 2013, Kanti mencalonkan diri menjadi calon anggota DPR-RI 2014 dari PAN, daerah pemilihan Jakarta III, meliputi Jakarta Utara, Jakarta Barat, dan Kepulauan Seribu.

 

Bidang Hukum

 

Sepulang dari Belanda, Kanti menjadi konsultan hukum PT. Bhawata Nusa Surya Perdana. Akhir tahun 2009 mengikuti Pendidikan Khusus Profesi Advokat yang diselenggarakan PERADI dan Atmajaya, kemudian lulus Ujian Profesi Advokat PERADI 2010.

Pada 2012, Kanti bergabung dengan advokat Lukas Simanjuntak, S.H. mendirikan kantor hukum Robean-Janis and Associates yang berkantor di Jalan Kemanggisan Raya, Jakarta.

(Disusun oleh Muhamad Khairul, jurnalis dan penulis lulusan IISIP yang pernah bekerja di tabloid KONTAN dan majalah Esquire Indonesia)

 

Close
Please support the site
By clicking any of these buttons you help our site to get better